Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kembali lagi di blog yukatasik.com, teman-teman!
Nah, kali ini saya mau ajak teman-teman jalan-jalan ke sebuah danau yang adem, tenang, tapi punya cerita yang bikin merinding. Namanya Situ Sanghyang, adanya di Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Danau ini bukan danau biasa, teman-teman. Di balik airnya yang tenang, tersimpan legenda turun-temurun yang sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Bahkan ada keunikan yang bikin banyak orang penasaran: katanya, air danau ini tidak pernah surut, walaupun musim kemarau panjang melanda. Wah, penasaran kan? Langsung saja kita bahas satu per satu.
Sekilas tentang Situ Sanghyang
Situ Sanghyang ini lokasinya ada di Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Alamat lengkapnya di Jalan Raya Cibalanarik. Jaraknya kira-kira 25 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya, atau kalau naik kendaraan kurang lebih 56 menit perjalanan. Jadi masih terjangkau banget buat wisata sehari, berangkat pagi pulang sore juga bisa.
Danau ini luasnya sekitar 16 hektar, dikelilingi pepohonan hijau yang bikin suasananya adem banget. Airnya tenang, memantulkan bayangan awan dan birunya langit. Pokoknya cocok buat teman-teman yang lagi pengin healing, menjauh sebentar dari ramainya kota. Duduk santai di pinggir danau sambil kena semilir angin sepoi-sepoi saja sudah nikmat banget rasanya.
Legenda di Balik Nama Sanghyang
Nah, ini bagian yang paling seru. Konon, dulu ada seorang pangeran dari Sukakerta yang jatuh cinta kepada istri seorang resi, yaitu Resi Batara Galunggung. Sang pangeran nekat menculik wanita pujaannya saat sang resi sedang pergi tirakat. Kemudian diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam.
Sang resi yang pulang dan mendapati istrinya dibawa kabur tentu saja murka. Ia kemudian menyamar menjadi budak buncir, lalu memanggil segerombolan anjing untuk mengacaukan pesta. Suara gonggongan anjing yang beradu dengan riuhnya pesta itulah yang kemudian terdengar seperti ngahiang, dan dari situlah nama Sanghyang berasal. Sang sendiri artinya sang pelaku, yaitu sang resi dan sang pangeran.
Cerita belum selesai, teman-teman. Sang resi kemudian menancapkan tujuh batang lidi ke tanah dan bersumpah, siapa pun yang bisa mencabutnya maka ia akan berguru kepadanya. Tidak ada satu pun yang sanggup mencabut lidi itu. Akhirnya sang resi sendiri yang mencabutnya, dan dari lubang bekas lidi itu memancarlah air yang tak terbendung hingga menenggelamkan perkampungan dan membentuk sebuah situ atau danau.
Karena sakit hati, sang resi pun mengucapkan kutukan: pangeran beserta seluruh pengikutnya yang ikut tenggelam akan menjelma menjadi ikan. Sejak itu, danau tersebut menjadi danau yang terkutuk, tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Kabar tentang danau terkutuk ini sampai ke Kesultanan Cirebon. Kemudian diutuslah Eyang Prabu Linggawastu untuk ngalokat cai, yaitu membersihkan kutukan yang ada di danau tersebut. Setelah kutukannya dibersihkan, barulah danau ini bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar, dan sampai sekarang menjadi objek wisata alam yang dicintai masyarakat Tasikmalaya.
Oh iya, makam Eyang Prabu Linggawastu juga ada tidak jauh dari danau ini. Jadi selain wisata alam, teman-teman juga bisa sekalian wisata religi atau ziarah ke sana.
Perlu saya tekankan ya teman-teman, ini adalah legenda dan cerita rakyat yang beredar dari mulut ke mulut, bukan fakta sejarah resmi. Tapi justru inilah yang bikin Situ Sanghyang punya daya tarik tersendiri, dan sampai sekarang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar.
Keunikan: Airnya Tak Pernah Surut
Selain legenda, Situ Sanghyang punya keunikan yang bikin banyak orang takjub. Menurut para pengelola dan warga di sana, air danau ini tidak pernah surut walaupun musim kemarau berkepanjangan. Konon, ada sumber air di dasar danau yang terus mengalir. Makanya danau ini selalu terlihat penuh sepanjang tahun.
Tapi ada catatan pentingnya nih, teman-teman. Justru karena ada sumber air di dasarnya, pengunjung dilarang berenang di danau ini. Walaupun permukaannya terlihat tenang, arus di bawahnya tidak terduga dan bisa berbahaya. Jadi teman-teman yang ke sini cukup menikmati dari pinggir saja ya, jangan nekat berenang. Keselamatan tetap nomor satu.
Daya Tarik dan Aktivitas Seru di Situ Sanghyang
Walaupun tidak bisa berenang, jangan khawatir, masih banyak kegiatan seru yang bisa dilakukan di sini.
Jalan santai mengelilingi danau. Ada jalan setapak yang mengitari danau, cocok buat jalan santai sambil menghirup udara segar. Sambil jalan, teman-teman bisa menikmati pemandangan pepohonan hijau yang rimbun.
Foto di signage kuning raksasa. Di pinggir danau ada signage besar berwarna kuning bertuliskan SANGHYANG. Ini spot foto wajib, teman-teman. Tapi tolong ya, jangan corat-coret, biar tetap bagus buat pengunjung lain.
Naik rakit atau perahu. Nah, ini favorit banyak pengunjung. Teman-teman bisa menyewa rakit atau perahu untuk menyusuri danau. Bentuk danaunya tidak bulat, tapi berjalur, jadi seru banget buat ditelusuri. Harga sewanya sekitar Rp25.000 sampai Rp30.000, tergantung nego sama mamang rakitnya. Sambil didayung, kita bisa menikmati keindahan alam dari tengah danau. Rasanya seperti terbawa ke zaman dahulu kala, hehe.
Memancing. Buat teman-teman yang hobi mancing, danau ini surganya. Banyak pemancing yang mengail ikan di sini. Ikan lele, ikan nila, dan berbagai jenis ikan tawar hidup di danau ini.
Piknik dan botram. Bawa bekal dari rumah, gelar tikar di saung atau gazebo, makan rame-rame bareng keluarga. Suasananya adem, makanannya jadi terasa lebih nikmat. Kalau tidak bawa bekal, tenang saja, ada beberapa warung makan di sekitar danau yang menjual ikan bakar. Tinggal tanya saja sama warga di sana. Ngomong-ngomong soal kuliner, teman-teman bisa baca juga artikel saya tentang kuliner khas Tasikmalaya, siapa tahu bisa jadi referensi makan enak setelah pulang dari sini.
Wisata religi. Seperti yang saya bilang tadi, ada makam Eyang Prabu Linggawastu tidak jauh dari danau. Teman-teman bisa sekalian ziarah ke sana. Ada juga situs Prabu Linggawastu yang kerap dikunjungi wisatawan.
Camping dan jogging. Buat yang suka aktivitas outdoor, kawasan ini juga bisa dipakai buat camping dan jogging santai di pagi hari.
Oh iya, ada juga cerita yang beredar di masyarakat tentang fenomena mistis di danau ini. Konon, kadang terlihat rimbunan pohon kiara yang berpindah dengan sendirinya ke tengah danau. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai totonden, atau pertanda bakal adanya sebuah kejadian. Percaya atau tidak, yang jelas cerita-cerita seperti ini yang bikin Situ Sanghyang makin misterius dan menarik untuk dikunjungi.
Rute Menuju Situ Sanghyang
Rutenya gampang kok, teman-teman. Kalau dari arah Kota Tasikmalaya, arahkan kendaraan menuju Singaparna, kemudian ambil arah ke Salawu saat tiba di Alun-Alun Singaparna. Setelah itu teruskan ke arah Mangureja lalu Cibalanarik, tibalah teman-teman di Situ Sanghyang.
Ada juga rute alternatif lewat Sukaraja. Dari Masjid Agung Sukaraja belok kiri, ikuti jalan terus, pemandangannya bagus, banyak sawah dan pepohonan yang bikin adem. Nanti dari Leuwibudah belok kiri ke arah Cibalanarik. Kalau naik motor, bisa lewat jembatan gantung memotong jalan Leuwibudah, lebih cepat.
Jalannya bisa ditempuh kendaraan roda dua maupun roda empat. Sampai Gerbang Wisata Situ Sanghyang jalannya relatif bagus, tapi setelah itu melewati perkampungan dan kondisinya agak kurang bagus. Masih bisa dijalani kok, tapi pelan-pelan saja ya. Kalau naik kendaraan umum, ada bis dari Padayungan jurusan Cibalanarik, tapi memang agak lama. Saran saya sih lebih enak naik motor atau mobil pribadi.
Tiket Masuk, Jam Buka, dan Fasilitas
Kabar baiknya, tiket masuk Situ Sanghyang ini murah meriah. Terakhir tercatat sekitar Rp6.000 per orang. Tapi karena harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, teman-teman cek info terbaru saat tiba di lokasi ya.
Danau ini buka setiap hari, jadi teman-teman bisa datang kapan saja, weekday maupun weekend. Waktu terbaik sih pagi atau sore hari, saat udaranya sejuk dan cahaya mataharinya bagus buat foto-foto.
Fasilitasnya juga sudah cukup memadai, ada:
- Area parkir yang luas
- Musholla
- Toilet
- Warung atau kantin
- Saung atau gazebo untuk bersantai
- Museum mini yang memamerkan kebudayaan dan sejarah orang Sunda
- Amphitheatre unik yang terbuat dari kayu
Tips Berkunjung ke Situ Sanghyang
Sebelum berangkat, ada beberapa tips dari saya biar kunjungan teman-teman makin nyaman:
- Bawa bekal dan tikar. Piknik di pinggir danau itu nikmat banget, jadi siapkan bekal dari rumah biar tidak repot.
- Jangan berenang di danau. Sekali lagi saya ingatkan, arus bawah danau tidak terduga. Nikmati saja dari pinggir atau dari atas rakit.
- Hormati situs dan makam. Karena kawasan ini juga punya nilai sejarah dan religi, jaga sikap dan jangan berbuat yang tidak sopan.
- Jaga kebersihan. Bawa pulang sampah teman-teman, jangan buang sampah sembarangan di kawasan danau.
- Datang pagi atau sore. Selain udaranya sejuk, cahaya untuk foto-foto juga lagi bagus-bagusnya.
Nah, itu dia teman-teman, ulasan lengkap tentang Situ Sanghyang di Tanjungjaya, Tasikmalaya. Danau yang tenang dengan legenda yang seru, keunikan air yang tak pernah surut, plus banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Cocok banget buat liburan bareng keluarga atau sekadar melepas penat di akhir pekan.
Kalau teman-teman sudah pernah ke sini, atau punya cerita menarik tentang Situ Sanghyang, jangan ragu tulis di kolom komentar ya. Dan kalau artikel ini bermanfaat, boleh banget dibagikan ke teman atau keluarga yang lagi cari tempat wisata di Tasikmalaya.
Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai habis. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di artikel berikutnya!
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Situ Sanghyang Tasikmalaya: Danau Mistis yang Airnya Tak Pernah Surut"
Posting Komentar